Diary Kemnas 2 Sdit Bakti Insani

Jan 16, 2012

Kami berangkat dari SDIT Bakti Insani hari Selasa, 10.01.2012 jam 13.00. Kami membawa barang-barang ke dalam truk dan bis. Orang tua kami juga membantu. Sebelum berangkat, ada tausyiyah oleh Bu Sulifah Sulistyani. Orang tua melambaikan tangannya ketika bis mulai beranjak pergi. Bis kami menuju SPBU Ambar Ketawang, Gamping, Sleman. Di sana, kami menunggu rombongan bis dari sekolah lain untuk bersama-sama berangkat. Waktu mulai berlalu, ternyata, kontingen lain belum juga terlihat, akhirnya bis kami berangkat sendiri.
Di perjalanan, senja mulai datang, mentari kembali ke peraduannya. Maghrib hamper tiba. Di sepanjang perjalanan di daerah jalur lingkar selatan purwokerto, Ustadz (guru) SMPIT Nuris (Nurul Islam), Abdullah Imaduddin – yang sering dipanggil Gus Dul – memberikan pertanyaan teka-teki yang berhubungan dengan pelajaran di sekolah. Pertanyaan tersebut urut sesuai huruf alphabet. Siswa-siswi SDIT Bakti Insani antusias menjawab pertanyaan yang dia ajukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut selesai hingga alphabet “Z”. Malam mulai datang, hari menjadi gelap. Kami berhenti sebentar di area parkir gratis di daerah kebumen untuk sholat maghrib & ‘isya secara jama’ qoshor. Lelah mulai terasa, kantuk datang, hampir semua siswa tidur terlelap dalam perjalanan menuju cibubur.
.


Rabu, 11.01.2012
.
Kami sampai di Buperta Cibubur waktu shubuh. Kami mencari masjid untuk sholat berjama’ah. Mentari mulai muncul. Kami mencari lokasi kemah untuk regu putra dan putri. Lokasi lumayan lama kami temukan karena luasnya daerah Bumi Perkemahan Cibubur. Lokasi regu putri kami temukan terlebih dahulu. Lokasi regu putra berada di sebelah timur jalan, sedangkan yang putri terletak di barat jalan. Siangnya kami mendirikan tenda, membuat gapura dan lain-lain.
Mendirikan gapura, mungkin itulah yang banyak memakan energi dan waktu. Empat pilar bambu berukuran 3 meter yang harus ditanam dalam tanah kurang lebih 40 cm. Tanah digali menggunakan peralatan dari sekolah berupa linggis kecil. Kami membantu bapak / ibu guru pendamping merangkai gapura dan mendirikan tenda. Baik regu putra maupun putri antusias membantu pendirian tenda dan gapura. Di sekitar tenda, tidak lupa dipagar dengan pancang bambu yang diikat dengan tali rafia.
Setelah semuanya selesai, kami melakukan bersih diri, mandi dan sebagainya. Kami antri dengan tertib untuk wudhu dan mandi. Walaupun kamar mandi ada banyak, namun sebagian besar rusak. Ada yang rusak pintunya, krannya, tidak ada ember, tidak ada cantolan dan sebagainya. Mungkin itu yang membuat kami harus rela berbagi dengan saudara-saudara kami yang lainnya.
Malam telah tiba. Malam yang cerah. Malam itu kami dihibur dengan suguhan nasyid dari Jogja yakni Justice Voice. Diteruskan dengan lantunan nasyid dari Malaysia. Tema-teman sudah terlihat capek. Meski konser belum selesai, kami memutuskan kembai ke tenda karena sudah ngatuk berat.
Acara malam itu belum usai. Konser selesai, dilanjutkan pemutaran film layar lebar berjudul Lima Elang yang mengisahkan petualangan lima orang anak yang tergabung dalam pramuka di sekolahnya. Namun, karena capek, hanya beberapa teman saja yang bangun menuju lapangan untuk nonton film tersebut.
.
Kamis, 12.01.2012
.
Kami istirahat malam lalu bangun untuk sholat shubuh. Pagi itu, Pak Nur mengambil kaos kemnas II yang berwarna kombinasi krem dan ungu beserta topinya. Seragam tersebut merupakan tanda keikutsertaan kami pada acara Kemnas II di Cibubur tanggal 11-14 Januari 2012. Pagi hari di hari kamis itu kami juga memperlengkap fasilitas di sekitar tenda kami. Kami membuat rak sepatu, pelindung kompor dan rak piring sederhana. Kami belajar untuk menjadi anak yang mandiri.
Jam 9 pagi, kami memakai seragam pramuka untuk mengikuti upacara pembukaan Kemnas II oleh perwakila Kuartir Pramuka Nasional. Upacara pembukaan ditandai dengan peluncuran roket dan pertunjukan robot semaphore yang mengomando kami untuk melakukan tepuk pramuka. Dalam upacara pembukaan itu, kami sungguh terkesan dengan banyaknya anggota Pramuka SIT yang mengikuti Kemnas, ada yang dari Aceh, Makassar, Bali, Palembang, Jawa Timur, Jakarta dan banyak dari tempat lain. Bahkan ada Pramuka yang berasal dari Malaysia dan Thailand.
Upacara selesari. Kami makan siang dengan masakan seadanya yang dimasak oleh pak guru. Masakan tersebut berasal dari Natura (bahan mentah berupa sayuran) yang dibagikan oleh panitia kepada setiap regu. Kami yag biasanya tidak doyan sayuran, terpaksa makan karena makanan dari catering belum datang. Sejak hari itu, kemi di grup putra mulai mengurangi konsumsi makanan berjenis mie cepat saji. Untuk menjaga kondisi kesehatan, pak guru membagikan tolak angin cair untuk diminum setelah makan pada siang itu.
Panitia mengumumkan agar regu putra SD bersiap untuk berkunjung ke Markas Komando Brimob (Mako Brimob) yang berlokasi di Kelapa Dua, Depok. Kami menuju ke sana naik truk polisi. Di Mako Brimob, kami melihat kakak-kakak brimob mendemonstrasikan keahlian militer seperti menembak, menjinakkan bom, dan keahlian-keahlian lainnya. Di sana, kami juga melihat kendaraan-kendaraan taktis yang terparkir rapi. Kendaraan-kendaraan taktis tersebut terdiri atas mobil barracuda, watercanon, robot penjinak bom bernama hobo, dan aneka persenjataan lengkap. Kami antusias melihat demonstrasi yang diperlihatkan kakak-kakak brimob.
Hujan turun lagi, kami bubar menuju ke aula brimob sesaat setelah kami menyaksikan demonstrasi pengamanan amuk massa atau yang sering dikenal dengan Pasukan anti Huru Hara (PHH). Kami biasanya melihat mereka di TV. Kami dan teman-teman dari SDIT lain sangat senang menyaksikan demonstrasi penjinakan bom, di mana kakak-kakak brimob meledakkan sebuah benda yang dicurigai berupa bom.
Saking banyaknya penonton, kami yang di belakang tidak dapat melihat dengan jelas kakak-kakak brimob yang mendemonstrasikan keahlian menembak. Pulang dari mako brimob, hujan turun lagi meskipun hanya gerimis. Kami maka sore di luar tenda agar tetap terjaga kebersihannya. Kami makan dibawah guyura hujan gerimis rintik-rintik. Setelah pulang dari mako brimob kami sungguh capek secara fisik dan mental. Sampai-sampai ada teman kami yang berkata pengen pulang. Ternyata kemah ditempat jauh seorang pramuka harus kuat mental dan kuat fisik. Malamnya hujan turun lagi. Kami semua tidur dalam tenda.
.
Kamis, 13.01.2012
.
Jam menunjukkan kurang lebih jam 3 pagi, ketika panitia sudah membangunkan kami di awal waktu hari Jum’at itu. Kami bangun qiyamul lail berjama’ah di lapangan. Selesai 2 rakaat pertama tahajud, suasana masih dingin, kami menahan rasa kantuk yang masih terasa setelah beberapa hari kelelahan menumpuk. Kami melanjutkan 2 rakaat lagi tahajud. Pada pertengahan rakaat 2, Allah menurunkan hujan. Namun kami tidak bubar hingga salam. Sebenarnya kami ingin bubar, tapi imam tetap menganjurkan kami untuk menutup tahajud dengan witir 1 rakaat. Setelah witir hujan tetap turun. Kami ingin bubar. Namun kakak imam memberi tausyiyah yang intinya kita sebagai masyarakat muslim Indonesia bersyukur dengan adanya hujan airdibandingkan degan susahnya saudara di Palestina yang hampir setiap hari dihantui oleh hujan peluru Israel. Kamipun tak jadi bubar. Kami tetap mendengarkan tausyiyah meski di bawah guyuran hujan.
Kami menitikkan air mata, kami harus berbakti kepada orang tua. Saat itu kami sadar bahwa banyak di antara kami suka ngeyel dan bahkan terkadang berkata kasar kepada kedua orang tua kami. Kami makin terharu saat tausyiyah itu mengandaikan jika saat kami pulang Kemnas II nanti sudah tidak disambut kasih saying ayah ibu lagi. Kami sadar bahwa tangis kami itu tidak berarti apapun kalau sikap kami tidak berubah ke arah lebih baik. Insya Allah kami akan memperbaiki sikap kami kepadad orang tua. Di samping mendoakan, kami juga berjanji untuk makin taat kepada orang tua. Akhirnya muhasabah ditutup seiring adzan shubuh yang berkumandang. Muhasabbah diakhiri dengan berdoa bersama.
Adzan shubuh sudah terdengar. Kami sholat shubuh berjamaah di lapangan. Hujan mulai berhenti ketika kami sholat shubuh. Kami kembali ke tenda untuk sarapan bersama. Menu pagi di Jum’at itu adalah nasi goreng. Hujan turun lagi. Sebagian siswa bersiap berlatih tali-temali dan jembatan darurat untuk lomba. Ada lomba beraneka ragam. Namun, SDIT Bakti Insani belum dapat Berjaya meski hanya di satu cabang sekalipun. Namun siswa-siswi tetap antusias mengikuti lomba.
Waktu di HP Pak Nur menunjukkan jam 10.30 ketika ada sms masuk mengabarkan bahwa ada empat siswi putri mengalami gangguan kesehatan. Mungkin karena cuaca yang ekstrim, siang sangat panas, sore hari sampai malam diguyur dinginnya hujan. Atau mungkin ada sebagian yang merindukan masakan rumah, dan kurang berselera dengan masakan ala kadarnya dari catering. Akhirnya keempat siswi dibawa ke tempat perawatan. Kembali ke tenda regu putra, ada dua siswa yang mengalami gangguan kesehatan. Dua siswa dari regu putra dibawa ke pos kesehatan.
Dalam sholat jum’at, khotib berpesan bahwa jaman Nabi dahulu ada seorang sahabat yang berperan mengembangkan islam di Yasrib atau Madinah Al Mukaromah. Selesai sholat Jum’at, regu putri yang masih fit, mempersiapkan diri menuju ke Mako Brimob di Kelapa Dua, Depok. Sementara regu putra bersiap mengadakan outbound. Sebagian yang lain menunggu tenda dan menunggu teman yang sakit di pos kesehatan. Huja turun lagi. Pak Pan memutuskan minta ijin kepada kakak Pembina untuk tidak mengikuti outbound karena hujan cukup deras, mengingat teman-tema kami sudah banyak yang jatuh sakit.
Hingga sore hari hujan belum juga reda, teman yang di pos kesehatan masih harus istirahat dalam perawatan dokter dari Mer-C. Kami menunggu di tenda ditemani Pak Nur yang membuatkan kami wedang jahe hangat. Malam harinya kami berinisiatif untuk melakukan tukar kado dengan regu lain. Alhamdulillah regu putra banyak yang mendapatkan souvenir dari teman-teman Thailand dan Malaysa. Ada yang mendapat topi, mata uang Thailand dan sebagainya. Sungguh usaha yang tidak sia-sia. Malam itu juga ada konser dari Izzatul Islam dan Shoutul Harokah. Namun sebagian besar dari kami tidak menonton, karena gerimis, dan kami juga telah kecapekan. Kami hanya mendengar sayup-sayup nasyid yang dilantunkan dari tenda. Hujan makin deras, waktu menunjukkan jam 00.30. Para siswa telah tertidur lelap. Tenda putra bagian timur tertiup angin hebat, hingga hampir roboh. Pak Pan terpaksa tidur memakai jas hujan, karena baju sudah basah kuyup. 
.
Sabtu, 14.01.2012
.
Hujan belum berhenti hingga shubuh tiba. Kami sholat shubuh di bawah guyuran hujan gerimis. Mentari telah menjelang. Hujan belum juga reda. Kami sarapan dan persiapan paking untuk pulang. Kami tidak mengikuti penutupan, karena melihat kondisi teman-teman yang sudah tidak fit dan untuk mempersiapkan energi untuk pulang.
Waktu menunjukkan jam 11.30 siang. Hujan makin deras. Kami membongkar dan menata peralatan pramuka di bawah hujan. Ada sebagian teman yang mandi dan bersiap menuju bus. Adzan dzuhur sudah terdengar ketika kami hampir selesai membongkar tenda dan merapikan peralatan untuk dibawa ke truk pengangkut barang. Terima kasih kepada papanya mbak syifa yang telah membantu membawakan barang-barang menuju truk dan bus.
Bus kami mulai berangkat. Baju-baju kami ada yang masih kotor. Sopir berjanji berhenti di perjalanan untuk mandi dan bersih-bersih diri. Adzan ashar sudah terdengar kami berhenti di daerah Cirebon untuk mandi, sholat. Bis mulai bergerak. Senja mulai datang. Malam telah tiba. Kami melakukan transit sementara di rumah Kak Saras di Cirebon. Karena bis tidak bisa  masuk gang menuju rumah Kak Saras, kami menumpang odong-odong – sejenis pick up – untuk sampai ke sana. Kami maghrib dan ‘isyak di sana.
.


Minggu, 15.01.2012
.
Kami melanjutkan perjalanan. Hari telah berganti, kami transit sebentar di parkir bebas di daerah kebumen. Kami melanjutkan perjalanan. Adzan shubuh sudah terdengar. Kami berhenti sejenak di daerah Magelang untuk sholat shubuh. Bapak dan ibu guru Pembina mulai meng-SMS orang tua kami untuk bersiap menjemput kami di SDIT Bakti Insani. Kami sampai di SDIT jam 06.00 satu persatu orang tua kami mulai datang. Kami sibuk mencari barang kami masing-masing, mulai dari pakaian kotor, sepatu, sandal, ember dan peralatan lainnya dengan sabar. Kami pulang menuju rumah kami masing-masing. Walaupun sangat lelah, kami mendapat pengalaman yang sangat berharga yakni kemandirian.      










 
SDIT Bakti Insani © 2013 | 2015 ...